Showing posts with label Menggelitik. Show all posts
Showing posts with label Menggelitik. Show all posts

Tuesday, March 27, 2012

Tikus a.k.a Mouse

Sudah setahun lebih sejak kepemilikan laptop pemberian ini saya pegang, saya tidak pernah menggunakan mouse. Alasannya… Yah malas saja. Malas BELI terutama. Hehe. Tapi akhirnya, saya pun membelinya demi kemudahan teman saya dalam belajar menggunakan media internet menggunakan laptop saya. Murah, 22 ribu saja di toko computer setelah saya ribet sendiri milih yang model apa.

Selang hanya satu hari kemudian alias keesokan harinya, teman kantor saya rapi-rapi meja karena udah lama gak beresin meja. Tiba-tiba aja gitu dia ngasih mouse. “Buat kamu saja, saya sudah tidak pakai”, katanya. Jyaaaaaah, saya kemarin baru aja beli. “Kenapa gak kemarin aja sih beres-beres mejanya bro, jadi kan saya gak perlu ngeluarin uang 22 rebu”, kata saya dalam hati. Dasar perhitungan, gak mau rugi. Hahaha. Dan akhirnya saya punya 2 mouse deh.

Tapi masih bagusan yang saya beli sendiri sih, soalnya yang kabel mousenya bisa ditarik itu loh. Jadi gak perlu karet gelang saat merapikannya.

Karena sudah setahun lebih gak pakai mouse, kadang mouse yang ada di kanan laptop saya anggurin. Hehe. Malang benar nasibmu mouse mouse mouse.

Wednesday, February 29, 2012

Imut

Karena tulisan sebelumnya membahas sebutan orang lain yang disematkan pada saya tentang ke-imut-an saya. Jahaha, PD banget. Tulisan kali ini saya ingin menyebutkan beberapa keuntungan bertubuh imut. Hehe, penting nih tulisan. 
1.     Dianggap lebih muda dari usia sebenarnya
Yah seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, semasa masuk SMA saya dikira anak SMP. Dan saat masuk kuliah, saya dikira anak SMA. Saya juga selalu dikira adik padahal sayalah si sulung. Hehe senangnya, sabar ya adikku.
2.     Buat bahan lucu-lucuan
Untuk mencairkan suasana obrolan, biasanya saya sering jadi bahan ceng-cengan. Mulai dari kalimat kamu mah bayarnya setengah, kamu mah gak diitung satu, kamu mah carinya di counter kids aja, tunggu sampai kamu besar nanti, ini khusus 18 tahun ke atas dan lain sebagainya.
3.     Masih bisa pakai baju dengan kode kids
Pernah ibu saya sengaja masuk toko khusus anak-anak dan membeli pakaian untuk saya. Mungkin baju turunan dari kakak ke adiknya adalah hal biasa. Tapi kalau saya, kebalikannya. Saya juga sering pinjam baju milik adik saya yang masih SD, habis bajunya OK punya sih.
4.     Dibilang imut
Nah ini dia yang asik, dapet sebutan imut dari yang lain. Bukan kerena wajah baby face saya tapi tinggi badan saya yang cocok dipadankan dengan kata ini. Hahaha.

Ah, sejujurnya saya mah tidak marah dapet sebutan itu, jadi bahan ceng-cengan yang lain. Biasa saja. Tak apa, tak masalah, it’s not a big deal pikirku.

Le Petit Me

Mereka bilang saya imut padahal wajahku gak ada imut-imutnya apalagi baby face. Jauuuh.

Sebutan imut untukku mungkin kata halus dari kecil, pendek dan sodara-sodaranya. Hee            -Su’uzon- sama orang-orang.

Tinggi Badanku memang tidak sampai 1,5 m alias 150 cm, hanya 141 cm. Seingatku angka segitu muncul sejak pertama ikut tes kesehatan di puskesmas dekat SMA buat daftar masuk kuliah. Dan angka itu pun selalu muncul saat saya mengukur tinggi badan untuk tes kesehatan di poliklinik kampus saat penerimaan mahasiswa baru, di puskesmas saat daftar CPNS sampai yang terakhir tes kesehatan di lembaga kesehatan untuk masuk kerja. Selalu 141, berarti gak nambah-nambah. Huhu.

Saya ingat saat pertama memasuki gerbang SMA, saya dikira mengantar kakak yang akan masuk sekolah. Saya juga dikira salah daftar masuk sekolah, karena lokasi SMP ada di sebelah SMA. Hadeuuh.

Saat saya masuk kuliah, hal yang sama terulang. Saya dikira anak SMA yang lagi jalan-jalan keliling lihat-lihat kampus.

Semasa kuliah, saya pernah jadi panitia penyambutan mahasiswa baru. Kemudian saya keliling melihat stand fakultas lain, eh saya malah dihampiri dan ditanya, “Diterima fakultas mana dek?”. 

Pernah juga saya ngobrol sama teman yang juga bertubuh sama dengan saya, kami pun dihampiri dan ditanya “Sudah daftar asrama dek?”. Jyaaah, padahal yang nanya sepertinya seumuran.

Nah, saat sudah bekerja pun saya menerima celetukan karena ke-imut-an saya ini. “Wah, kamu kalau sudah besar nanti pasti cantik”. Astaga umur sudah seperempat abad begini disebut kalau sudah besar nanti.

Seragam

Bahasa Inggrisnya adalah uniform, ah siapa yang tak tahu…

Saya sudah bekerja lebih dari 6 bulan di tempat saya bekerja saat ini (ah ga usah dikasih tahu ah di mana, hehe). Sebenarnya tulisan ini sudah ada di alam pikiran saya, ceileh kaya apaan aja. Dan tulisan ini pun terealisasi setelah saya merasa iri dengan anak baru yang baru sebulan di kantor tapi sudah berseragam. OK iri memang tanda tak mampu dan jangan ditiru ya teman, haha.

Saya gak akan membahas tentang betapa irinya saya pada anak baru yang sudah berseragam. Haha, padahal membuat tulisan ini menunjukkan ke-iri-an saya pada mereka. OK I admit it, ENVY. Hee.

Saya akan membahas beberapa sebutan bagi mereka yang tak berseragam di kantor yang pekerjanya berseragam. Sebutan ini ada yang saya alami sendiri (artinya, saya memang pernah dikira dengan sebutan di bawah ini) ada juga yang saya kira-kira sendiri menggunakan ilmu kirologi.

Berikut sebutan bagi mereka :
1.      Anak magang
Sebutan ini sebutan paling wajar bagi mereka yang tidak berseragam tetapi berada di kantor yang berseragam. Bisa anak magang atau mahasiswa magang sebutannya. Kalo siswa magang kayanya gak deh soalnya mereka yang masih siswa pakai seragam sekolah yang putih abu abu ituloh atau putih hitam.
2.      Mahasiswa
Nah sebutan yang ini masih wajar juga kok. Boleh juga ni sebutan, lumayan dianggap masih kuliah padahal sudah 3 tahun yang lalu menyelesaikan bangku kuliah (habis saya makan itu bangku. Haha).
3.      Pencari kerja
Sebutan ini masih bisa masuk di akal, wajar lah. Kantor, kemudian didatangi para pencari kerja yang berharap bisa meraih pekerjaan. Ok, sebutan ini boljug alias boleh juga.
4.      Anak dari pekerja
Nah sebutan yang terakhir ini rada aneh. OK, mungkin gak terjadi pada semua orang, maka akan saya ceritakan bahwa sebutan ini pernah disematkan pada saya.

Seperti biasa saya berjalan ke luar kantor dan menunggu angkutan umum di pos satpam. Dan seperti biasa pula saya menaiki angkutan umum berwarna merah arah Simpang Lima. Nah ini dia kejadiaannya, di dalam angkot saat seorang ibu dengan bawaan tas besar persiapan ke pasar mengajak ngobrol saya.

Ibu      : Dari kantor proyek dek?
Saya : Iya bu. (Sekedar informasi, kantor saya memang kantor proyek pembangunan sesuatu gitu deh)
Ibu      : Mahasiswa magang ya?
Dengan senyum sumringah karena dianggap masih mahasiswa saya pun menjawab,
Saya   : Bukan kok bu, saya kerja.
Ibu     : Loh kerja, saya kira tadi habis menghampiri ayahnya buat minta uang.
Saya : (hanya tertawa kecil menyerap imajinasi ibu ini yang lumayan tinggi, bisa-bisanya mengira saya begitu) hehehe.

Tuesday, January 31, 2012

Terkunci

Kisah ini merupakan kisah nyata, halah memang blog ini isinya kisah nyata semua.

Minggu siang, merupakan waktu yang sangat menyenangkan untuk tidur siang dan bermalas-malasan di dalam kamar sehingga sore nanti bisa bersemangat kalau mau jalan-jalan (ups ketahuan deh kerjaannya kalo liburan. Heu). Begini kisahnya, Minggu pagi saya keluar kosan karena ada acara kumpul di rumah teman hingga zuhur. Pukul satu siang saya sudah sampai di depan pintu kosan, dengan kepala pening karena sangat ingin menikmati rebahan di kasur, saya buka handle pintu dan apa yang saya dapati teman? IT’S LOCKED alias terkunci. Padahal biasanya tidak pernah dikunci karena ada ibu kos.

Masih dengan santai saya buka tas saya mengambil kunci karena di kunci kamar saya terdapat kunci cadangan pintu depan kosan dan apa yang saya dapati teman? IT’S NOT IN MY BAG seperti biasa. Ya ampuuuuuuun memori saya kembali ke jam 7 tadi pagi dan mengingat bahwa saya tidak mengambil kunci dari pintu kamar saya. Itu berarti kunci saya masih nyantel di pintu kamar. Grrrr.

Tidak putus asa saya ketuk pintu depan kosan sambil mengucap salam dan meneriakkan nama ibu kos, anak-anaknya dan penghuni kosan yang masih di kamar. Bleh. Ternyata tak ada sahutan. Itu berarti mereka semua sedang pergi. Ibu kos pasti mengira saya membawa kunci kosan. Astaga bencana ini jadinya. Mana mata sangat ingin terpejam, kepala berat menahan kantuk. Huhu. Cuaca memang tidak hujan tapi sangat berangin. Ingin tidur depan kosan malah nanti sakit dan disangka gelandangan. Baiklah, karena putus asa saya sms teman siapa tahu dia ingin menemani tidur di masjid Baiturrahman dekat Simpang Lima (astaga masjid jadi tempat istirahat, habis mau bagaimana lagi). hehe. Eh dia bilang sedang main ke mall. Waduh, karena tidak punya teman lain maka setelah kejadian terkunci depan pintu kosan maka saya pun main ke mall. hehe.

Monday, November 7, 2011

Ahjusshi Baik Hati

Well, ya ya saya mengaku deh saya memang termasuk salah satu dari sekian banyak korban (jelek banget kata-katanya. OK diganti jadi..jadi..apa ya.hix kosakata yg saya miliki gak banyak. Pokoknya intinya tuh saya juga ikut2an demam) Hallyu alias gelombang budaya korea yang menyebar dan berefek global di berbagai belahan dunia (ehm, sumbernya dari koran yg terbit beberapa hari lalu –Semarang Metro-). Jadi Ahjusshi itu adalah sebutan bagi orang tua (tidak muda, ya iyalah) laki laki yang bukan ayah kita sendiri (ngartiin sendiri berdasarkan pengalaman nonton berbagai pelm korea n dramanya. kalo salah, mohon maaf. kalo benar, maaf mohon.he).

OK jadi begini ceritanya, berawal dari how exciting I am because of that day was my first flight alone. Well yeah actually not exciting but afraid. huhu. Hari itu saya membawa tas biru besar yang isinya juga banyak plus berat tapi masih beratan badan saya. Dan saya memilih untuk tidak memasukkannya di bagasi tapi saya bawa sendiri karena 1 alasan yaitu malas antri ambil bagasi. Hehe. Saat berangkat, tempat duduk saya gak jauh dari mas2 pramugara (yg ya ampuuun pas bener ini tadi di awal bahas Korea, mas2 ini punya tampang Korea-nan. hamper saja saya mau menyapa anyonghaseyo. haha) yang lagi berdiri menyapa penumpang dg senyuman yg menurut dia sih dah OK bgt. saya meminta tolong untuk diletakkan di atas karena saya gak sanggup,beraat (bukaaan sebenernya bukan karena itu tapi karena gak nyampe.dweng.)

Selama perjalanan saya terlena sampai melupakan bagaimana nanti kalo sudah waktunya turun ya. Kalo di bis enak tinggal ketok2 pake jari bilang kiri baaaaaaaang (ups bukan itu kali tapi ada aja orang yg bantu bawain minimal ngasih jalan supaya bisa lewat). Dan waktu turun pun, saya sengaja memilih tidak ikut antrian orang yang mau keluar alias nanti dulu laaah (selain mau cari kesempatan narsis-an di pesawat.hehe) maksudnya biar gak terlalu rame n gak malu kalo pake jinjit2 ngambil tas. Karena saya saat itu yakin gak ada yang bisa dimintai tolong. Dan tak dinyana kawan (dinyana artinya apaan ya.hehe). Waktu itu saya ingat sekalilili, melepas sepatu dan berdiri tanpa malu di atas kursi mencoba menggapai tas biru besar saya. Dan dari kursi seberang menunggu antrian ada ahjusshi baik hati tanpa dimintai tolong langsung mengambilkan tas saya dan tersenyum. Waaah langsung meleleh saya.haha. Baik banget bapak berkumis yang satu ini. Kalo liat dari tampangnya rada mirip pak Andi Malarangeng, pak  Rano Karno, pak Darwis Triadi. halah, karena kumisnya aja itu mah.. Saya pun hanya bisa mengucapkan terima kasih dan kasih senyum paling manis menurut saya (yg lain gak merasa).
Ternyata masih banyak orang baik..

Makanan Asem (Lagi)

Bukan, saya gak akan cerita soal sayur asem makanan favorit saya mentang-mentang judulnya makanan asem. Ada ada saja, ini sudah tahun ke-2 lebaran Idul Adha makanan bersantan asem. Tapi masih aja dihajar (plak plak plak). Sudah jadi kebiasaan tiap Idul Adha pasti makanannya adalah Opor ayam + Ketupat + Kentang ati (kalo disingkat OKK nih, mantap. 2005, Beda!!! apa dah -> wah nunjukin angkatan ketauan deeeeh).

One year ago (tsaah bahasanya), itu opor ayam malemnya lupa diangetin sama ibunda Malin (hihi) jadilah paginya si opor ayam termasuk dalam golongan makanan asem!!! dan sang ibunda marah karena gak ada yang ngingetin atau gak ada orang rumah yang inisiatif buat ngangetin si opor ayam (jatuh harga diri saya sebagai anak perempuan.halah). Untung sang ibunda gak ngutuk sampe jadi batu.hehe.

Dan kejadian tahun lalu pun berulang pada tahun ini.huhu. Tapi bukan karena lupa diangetin yang jadi penyebabnya. (hmm sang ibunda belajar dari kesalahan tahun lalu, tapi apa yg terjadi…si opor tetep asem!!!). Jadi penyebabnya adalah centong yang digunakan untuk mengambil sayur ketupat pemberian tetangga digunakan juga untuk mengambil si opor. Jadi ceritanya ada yang gak sabar gitu deh (tersangka 1 yang gak perlu disebut namanya) dan ditambah pula ada yang jari2 manisnya sedikit nyelup di opor ayam (yang ini tersangka 2). Hihi lengkaplah sudah penyebab asem dari si opor. Tapi meski begitu, si opor tetap habis disambar orang rumah setelah solat Idul Adha..ckck..mang makanan favorit kami adalah makanan asem selain sayur asem..hehe..

Friday, November 4, 2011

Gelang tasbih-ku

Kenapa ku beri judul gelang tasbih-ku ya karena memang ingin menceritakan salah satu aksesori di tangan (apa itu? Yap gelang pastinya. kan kalo di telinga kalung, di jari anting dan di leher cincin. mulai ngaco). Jadi, ada kejadian menarik versiku di balik gelang tasbih ini. (hmm tasbih, kok jadi inget pelm ya. OK, jadi pengen ganti judulnya jadi Ketika Gelang Bertasbih. Berasa jadi pemeran utama, bukan yg jadi Anna tapi yg jadi Azam.hehe)

Jadi begini ceritanya, aku sayaaang banget sama gelang ini soalnya pemberian seseorang yg special (duileeeh) plis deh ini tuh pemberian orang terganteng di rumah (abah sebutan lain untuk ayah, papa, babeh, abi dll) nya enya laaah paling guanteng kan anggota keluarga lain di rumah perempuan semua. Cukup sudah bahas abahnya, bosen nanti dibilang ganteng.huehe.

Gelang ini sih kayanya gelang murah yang gak sampe 5 ribu gitu tapi kan belinya jauuuh di sono noh pulau selain Jawa, Sumatera, Bali, Papua, Sulawesi (tetep usaha kalo gelang ini gak murahan. apa daah). Sebutan gelang tasbih sih sebutan dariku sendiri, habis jumlah biji dari gelang ini ada 33 (sama kan sama yg biasa dibuat tasbih. Buat yg ga biasa ga tau nih*kaya biasa zikir ajee).

Gelang ini kupakai sejak kuliah entah tingkat berapa, yang pasti gak tingkat 5 soalnya aku lulus tepat waktu siih (sombong, kaya langsung dapet kerja aja. huhuuu). Banyak temen yang tanya “Iiiih beli di mana” (ko kaya jijik ya). Intinya pada kepengen gitu deeeh. Pernah suatu hari naik bus AC sama temen n dia nanya beli gelang di mana. Dengan bangganya ku bilang, “Belinya jauh, harganya sih murah”. Dan gak berapa lama, lewatlah pedagang asongan nawarin gelang, “3 ribu..3 ribu”. Temenku pun nyeletuk, “itu kaya punyamu”. Gubrak. tapi temenku blg lagi “Tapi masih bagusan punyamu, kayunya lain gak pudar kena air”. Aku yg tadinya udah terjatuh dari bangku kembali duduk sambil senyum manis (berlebihan).

Gelang ini sering ku benerin posisinya, habis ujung dari gelang yang ada talinya dan udah kaya antena hewan itu selalu di atas. Kan jelek, aku juga serem lihatnya. Suatu saat pun aku bilang sama temen, “ko ini (si tali) selalu di atas ya. Bosan aku mindahin, kenapa ya”. Dengan santai sambil memegangi tanganku dia pun berkata, “kan yg berat bukan yg bagian tali tapi bagian tengah (biji kayunya mang paling gede dibanding yg lain)”. Astagaaa, betapa bodohnya aku. Huhu, masalah berat aja gak tau.

Pernah suatu kali naik metro mini, aku liat orang (baca makhluk selain cewe alias cowo) pake gelang yang sama. dan hati kecilku pun berujar, “Mungkinkah…mungkinkah dia jodohku”. Haha.

Gelang ini sempat ku kira hilang, sudah kucari kemana kemana kemana.. (ngikut gaya ATT yg lagi booming) gak ada juga. Sampe curhat sama temen dan mengira gelang emas yg kucari ternyata cuma gelang kayu yang harganya gak sampe 5 rebu. haha sori ya. Ternyata coba tebak ada di mana kawan, ada di ember cucian. Cuciaaan deh aku.

Belum lama ini, di awal mendapat kerja tetap, abahku bilang pensiunkan saja gelangnya ganti sama yang berkilau (emas maksudnya nih, bukan mas mas ganteng loh). “Tapi beli sendiri”, ujarnya. Kyaaa males dah.